Bila Di Dunia Kertas

Pagi hari Bila telah sibuk membereskan tempat tidurnya, lalu ia mandi dan mengenakan T-shirt berwarna ungu, memakai celana selutut yang berwarna abu-abu, dan bandana berwarna ungu di sampingnya terdapat bunga kecil berwarna putih.

“lho, ibu dan ayah kemana?” gumamnya dalam hati. Ia melihat ibu dan ayah pergi entah kemana padahal waktu ia mandi bertemu dengan ayah dan ibunya. Dan ia pun melihat surat di atas meja makan ketika ia hendak makan. Bila, ibu dan ayah pergi duluya, kerumah Kak Sharine. Karena dirumahnya nanti malam ada acara ok. Oh ya, ibu telah membuat kue muffin untuk mu di meja makan ok!!!
Itulah cuplikan dari surat dari ibu.

“Ya, ibu pergi bete lagi, tapi tak apa ka nada kue muffin yang lezat yummy…” ucapnya membayangkan kelezatan kue tersebut.
Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil buku kesukaannya yaitu “Petualangan Di Kota Kertas” ia menggapai buku itu tetapi buku itu terjatuh dan terbukalah sebuah halaman, ketika itulah ia terjatuh di buku itu sambil menutup matanya. Ketika ia membuka mata, ia melihat semuanya menjadi kertas tak ada manusia yang bukan dari kertas kecuali dirinya.

“Mengapa menjadi seperti ini, kok semuanya menjadi kertas aku tak percaya” ujar Bila tak percaya dengan menggenggam kue muffin yang di buatkan ibu. Lalu, ia melangkah 1 demi 1 langkah, dilihatnya ada kurcaci yang terbuat dari kertas, dan sedang panen buah Laravers dan buah ini hanya dijumpai di Kota Kertas saja.
“Hai kurcaci, aku Bila dari Bumi aku ingin pulang tapi, aku tak tau jalan keluarnya” Tanya Bila lembut sambil menggigit kue muffinya.
“Siapa kamu, aku tak kenal dengan mu, dan aku tak akan memberitahukanmu karena kamu bukan orang yang aku kenal” kurcaci itu tak mau member tahu di mana letak jalan keluar dari Kota Kertas.
“Ayo lah, aku mohon ya, plis. Kalau aku tidak pulang aku akan di marahi oleh ibu” Bila memohon kepada kurcaci itu.
“Boleh, tapi dengan syarat, kamu harus memberikan kue yang ada di tangan mu itu, dan tinggal dirumah ku selama 2 tahun.” kata kurcaci itu dengan lantang.
“Tapikan, 2 tahun itu lama sekali” gelisah Bila
“kalau tak mau ya sudah..” ucap kurcaci itu dan melanjutkan pekerjaannya lagi sebagai petani
“oke, aku akan menerima permintaan mu, dan ambilah kue ini untuk mu, lalu aku akan tinggal di rumah mu selama 2 tahun.” cetusnya terbata-bata
“baguslah, dan kamu akan menjadi petani di rumahku” kurcaci yang terbuat dari kertas itu menjawab.

Selama 2 tahun Bila tinggal di rumah kurcaci itu, dan sekarang waktunya untuk pergi mencari pintu keluar dari Kota Kertas.
“oh, terima kasih kau telah membantuku, dan sekarang aku akan menunjukkan mu pintu keluar dari sini” kurcaci pun berterima kasih kepada Bila.
“ya, aku juga terima kasih untuk mu karena telah memberi taukan ku pintu keluar dari sini” Bila pun membalasnya.
“ayo, ikut aku pergi ke jalan keluar itu, tapi masih ada perjalanan lain yang harus engkau tempuh selama berada di sini” ajak kurcaci kecil itu dengan mnunjuk kea rah berlawanan.
“kemana lagi aku akan pergi ” gumam Bila dengan wajah hendak marah “katanya mau member tahu pintu keluar disini, cepat katakana dima harus aku lewati”
“di sana di hutan yang gelap itu! kau akan melewati rumah si penyihir terjahat di kota kertas, akan tetapi, ia takut pada api, jadi engkau ku beri kue, dan korek api untuk menakutinya” jelas kurcaci itu panjang lebar.
“oh yeah, dia takut api OMG ” kata Bila ringan “oh ya makasih ya, makanan dan korek api ini untuk menakutinya”
“ok, No Problem” jawab singkat si kurcaci

Bila berjalan dengan pasti menelusuri hutan yang gelap itu. Ia menemukan sebuah rumah yang sepertinya tak ada yang menempatinya. Bila masuk kedalam rumah itu ia berjalan dengan hati-hati.
“aaaaaaa, a.. ada.. penyihir.. aaaaa..” ia berteriak seperti telah terdengar di rumah kurcaci tadi.
“haa.. haaa.. ha.. ada anak kecil rupanya, sendirin saja ini.. haaa.. ha.. haaa..” pekik nenek sihir jahat yang sangat buruk rupanya
Bila tak mau ambil resiko lagi, ia segera menyalakan korek api tersebut, tetapi tak bias menyala. Bila semakin takut dan panik.
“aduhhh… bagaimana ini tak bias menyala” gumam Bila takut sehingga ia berkeringat dingin
“ayo anak manisss, mengapa harus takut” ajak nenek sihir dengan penuh senyum yang pahit
“TIDAK AKAN..” kata Bila tegas

Ia panik ketika nenek sihir tersebut mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya. Dengan sigap Bila menghindar. Ia terus berusaha agar korek api itu bisa menyala.
“ayo.. dong nyala..” gumam Bila lagi
Daaaannnn.. menyala deh.. api itu di lemparkan ke nenek sihir itu dan, nenek sihir itu pun hangus. Bila melihat di abu pembakaran nenek sihir itu ia melihat permata yang sangat berkilau. Bila pun mengambilnya.
“apa ini, eh mungkin ini jalan keluar kota kertas ini” pikirnya
Permata itu pun bercahaya menyilaukan, dan ia pun sampai di rumahnya ketika ia membuka mata.
“waaaw AMAZING , ini hebat sekali” katanya senang
Ia melihat jam dinding ternyata masih jam 9 , dan ibu juga belum datang. Berarti ia hanya 1 jam di kota kertas itu. Waaaw… ini pengalaman yang tak terlupakan oleh Bila.

 


Comments




Leave a Reply

    Author

    Write something about yourself. No need to be fancy, just an overview.

    Archives

    February 2013

    Categories

    All