The Bright Star

“Apa? Azura Winata datang ke sekolah kita? Ke SMP N 1 Tenggarong?” Viola terkejut mendengar temannya itu berteriak dengan suaranya yang melengking sambil menatap BB nya dengan takjub.

“Siapa?” tanya Viola pada temannya itu, Mytha. “itu loh yang main di film “Persahabatan dan Cinta”. Kamu ga tahu?” tanya Mytha yang hanya dijawab oleh anggukan acuh tak acuh dari Viola. Mytha hanya menggeleng-geleng melihat tingkah temannya itu. Viola memang tipe orang yang tidak peduli dengan orang-orang terkenal seperti Azura. Tapi, lebih dari itu ia sangat baik pada teman yang lain malah sangat peduli. Walaupun, ia tidak terlalu cantik, dan tak terlalu pandai, teman yang lain sangat senang berteman dengannya karena kelebihannya yaitu pemberani dan peduli.

“Vio, kamu tahu…” belum selesai Mytha bicara, langsung di sela oleh Viola. “Gak, aku gak tahu!” balas Viola ketus. “Hoi, Viola Aprillia! Kamu jangan menyela pembicaraanku dulu dong.” Kata Mytha memprotes. Karena tidak mendapat reaksi dari Viola, Mytha melanjutkan. “Azura akan bersekolah di sini.” kata Mytha antusias mengatakan info yang ia dapatkan dari BB nya itu.

Dan sayangnya hanya dibalas oleh sikap tak peduli dari Viola. Viola bingung kenapa teman-temannya sangat menyukai artis yang bersekolah di sekolah mereka itu. Bahkan sampai berheboh-heboh ria. Itu hanya membuang-buang waktu tahu! pikirnya dalam hati. Setiap kali mendengar kata artis ia selalu teringat pada kejadian bertahun-tahun silam yang terjadi pada keluarganya. Maka dari itu, ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak peduli tentang seseorang yang disebut artis.

“Mytha, kamu kan tahu aku ga pernah suka ngomongin tentang artis, bintang terkenal atau semacamnya.” Kata Viola langsung berjalan keluar kelas bertepatan dengan bunyi bel tanda istirahat.

“Vio, kamu kemana?” teriak Mytha pada Vio yang sudah sampai di ambang pintu. Gadis itu berbalik dan berkata singkat, “ke perpus.” Lalu berbalik dan pergi meninggalkan Mytha yang hanya terpaku di tempat duduknya.

“masih saja sama.” Gumam gadis itu pelan.

Azura Winata adalah artis cilik terkenal dari Jakarta karena ia masih duduk di kelas 3 SMP. Tidak tahu ada angin apa ia memutuskan untuk pindah sekolah ke daerah yang termasuk terpencil yaitu SMP Negeri 1 Tenggarong.

Pagi itu, info tentang Azura menyebar begitu cepat bagai bau bangkai yang lama kelamaan pasti akan tercium. Dan itu membuat Viola kesal karena kehebohan di setiap penjuru sekolah. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan di lantai dua untuk menyendiri dan dengan alasan lain untuk bertemu seseorang.

Ketika memasuki perpustakaan, ia langsung menuju tempat duduk di dekat jendela yang ternyata sudah diduduki oleh seorang cowok yang sedang tenggelam dalam setiap bacaan di ensiklopedi yang sedang ia baca. Viola langsung duduk di kursi yang ada di hadapan cowok itu.

“hai, Ga !” sapa Viola. Cowok di hadapannya langsung berhenti membaca dan menatap gadis itu heran. “kenapa? Heran Vio disini?” kata Viola. Rangga menatapnya meminta penjelasan. “kan kita sudah kelas 3, makanya Vio kesini mau baca buku.” Lanjut Viola sambil menarik ensiklopedi yang di simpan Rangga di atas meja untuk ia baca sendiri.

Rangga menghentikan tangan Viola. Rangga tahu Viola hanya ingin menyendiri seperti biasa di sini. Rangga tahu benar Vio tidak akan membuang waktunya untuk membaca buku di perpus bahkan hanya untuk membaca ensiklopedi.

“sekarang jelaskan. Ada apa?” kata Rangga sambil menggenggam tangan Viola dan menatapnya lurus untuk meyakinkan gadis itu agar bercerita padanya. Viola menghela napas berat dan memandang ke arah lain, itu membuat Rangga tahu bahwa gadis itu tidak ingin memulai cerita duluan. Rangga tahu apa yag harus ia lakukan.

“baiklah aku akan bertanya” kata Rangga sambil melipat tangannya di ats meja. “apa ini ada kaitannya dengan berita tentang artis itu?” lanjutnya membuat Viola seketika tersentak, lalu menyadarkan dirinya kembalai. “Vio ga akan tanya kenapa Rangga bisa tahu. tapi ini tak seperti di pikiranmu.” Kata Viola memprotes. Rangga hanya tersenyum mendengar penjelasan gadis itu. Dan meminta Viola terus menjelaskan.

Di akhir penjelasan, ia tersenyum dalam hati. Gadis itu benar-benar tidak tahu kalau Rangga sangat tahu tentang dirinya. Karena mereka sudah bersahabat dari kelas 1 SMP. Dan pada suatu ketika, Viola sudah tidak kuat menyimpan rahasia itu sendiri lagi Viola menceritakannya pada Rangga yang sudah ia percayai

“aku tahu kok Vio bukan tipe orang yang suka musuhin orang lain kan? Nah, anggap aja dia bukan artis. Dengan begitu mungkin Vio bisa berteman dengan dia kan?” kata Rangga memberi nasehat seperti biasa.

“entahlah, akan Vio coba.” Kata Vio tak pasti.

Pagi itu, adalah hari pertama Azura masuk sekolah di sekolah barunya yang sempat heboh karena gosip ia akan bersekolah di sini. Ia sengaja berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali agar tidak menimbulkan kehebohan ketika anak-anak itu melihatnya. Tapi ternyata, ia salah baru saja memasuki gerbang sekolah barunya, ia langsung mendapat berbagai tatapan ingin tahu yang tepat mengarah kepadanya.

“seterkenal itukah aku?” pikirnya dalam hati. Ia terus saja berjalan menuju kelasnya sambil sesekali tersenyum pada satu atau dua orang anak yang menyapanya. Kelasnya ada di lantai dua, dan ya sekarang ia sudah kelas sembilan. Memang sih nanggung pindah sekolah, tapi mau bagaimana lagi itu udah keputusannya yang paling bulat dan tidak bisa diganggu-gugat.

“saya hanya ingin vakum dulu di dunia entertainment” katanya singkat saat ditanyai wartawan minggu lalu saat ia akan berangkat ke Kalimantan. Ia menaiki tangga menuju kelas 9 A karena memang itu kelas barunya sekarang. Jangan dibilang hanya bermodal artis ia bisa masuk ke kelas unggulan tapi itu memang kemampuannya sendiri yang sebenarnya juga termasuk anak pintar maka dari itu ia bisa langsung masuk kelas unggulan.

Tapi, sebelum ia sempat melangkah lagi ia langsung ditabrak oleh seorang gadis yang berlari menuju tangga. Untung saja Azura dengan sigap memegang pegangan tangga, kalau tidak mungkin sekarang ia sudah terguling-guling di tangga dan pasti langsung tersiar kabar “Hari pertama Azura masuk sekolah malah jatuh dari tangga”. Hah, itu sungguh memalukan, pikirnya. Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh lagi, ia langsung menatap bingung pada cewek yang menabraknya tadi yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf.

“ga minta maaf gitu?? Astaga, apa semua anak disini seperti dia?!” katanya kesal lalu berbalik melanjutkan jalan menuju kelasnya. Sejak kejadian itu, ia bersumpah tidak ingin bertemu anak seperti anak tadi lagi. Tidak akan.

Viola melihat artis itu duduk di samping Rangga. Ya, ia dan Rangga ada di kelas yang sama bahkan dari kelas 1 SMP. Sedangkan ia sendiri duduk dengan Mytha. Viola sempat melihatnya tadi pagi tepatnya ia tak sengaja menabrak artis itu. Saat ia akan meminta maaf, ia tidak jadi melakukan itu karena tahu siapa yang ia tabrak. Oleh karena itu, saat artis itu measuki kelas tatapan mereka langsung bertumbukan. Tapi, Viola langsung membuang muka begitu saja.

“hebat sekali artis! Baru masuk langsung kelas unggulan!” pikirnya dan tambah kesal karena kenyataan bahwa artis itu sekarang duduk semeja dengan Rangga.

“waw, ternyata dia lebih cantik daripada di tv ya.” Kata Mytha berbisik pada Viola sambil terus mengagumi kecantikan Azura. Viola hanya mendengus mendengar kata temannya itu. “apalagi yang akan dia ambil dariku.” Gumam Viola.

“apa katamu?” tanya Mytha. Belum sempat Viola menjawab Pak Rusli yang adalah Guru Matematika itu berteriak, “ada apa Vio, Mytha?! Ada pertanyaan?!” kata pak Rusli memergoki Viola dan Mytha yang sedang berbisik-bisik. Mytha dan Viola seketika tersentak.

“ga pak. Ga ada, silakan diteruskan.” Jawab Mytha dengan persaan gugup. “perhatikan! Jangan sekali-kali mencoba mengobrol di pelajaran saya! Mengerti?!” kata beliau lantang. “mengerti pak.” Jawab anak-anak serempak. Pak Rusli kembali menulis rumus-rumus,yang membuat kepala jadi pecah itu kembali, ke papan tulis untuk disalin anak-anak. Setelah itu, Mytha dan Viola terdiam sampai jam istirahat datang.

Azura melihat teman semejanya itu, Rangga menghampiri cewek yang menabraknya tadi pagi. Sepertinya mereka berdua akrab, sangat akrab malah. Karena Azura mendengar dari teman yang lain kalau mereka berdua sudah bersama sejak kelas 1 SMP. Cewek itu, cewek yang menabraknya tadi pagi, namanya Viola Aprillia. Ia bisa melihat kalau cewek itu cukup terkenal di kalangan kelas 3, yang ia dapat infonya itu juga dari teman sekelasnya yang lain.

“iya, jadi dulu waktu MOS ada anak namanya Hera, dia itu di Bully habis-habisan sama kakak-kakak osis karena yah, bisa dibilang wajahnya yang jelek dan mengenakan kacamata. Karena ga tahan sama sikap seniornya itu, Viomenegur mereka, tapi malah di ketawain. Vio ga meyerah dia terus membela Hera, sampai akhirnya dia bilang bahwa senior kita tu sama sekali ga ada apa-apanya di banding Hera yang sebenarnya sangat pintar dan buktinya, Hera bisa menang juara 1 OSN tingkat provinsi.” Sandra berhenti sebentar lalu meneruskan.

“nah, sejak itu kakak-kakak osis ga pernah ngangguin Hera lagi dan anak-anak junior yang lain. Dan sejak itu pula, Vio jadi terkenal karena keberaniannya walaupun dia ga bisa dibilang pintar-pintar amat sih.” Kata Sandra menekankan kata ‘ga Pintar” itu. Yah, dia memang terkenal tukang gosip di kelas itu. Tapi Azura tahu kalau yang ini memang bukan gosip karena Azura melihat sendiri kalau cewek itu sangat dekat dengan semua orang dan… ramah.

“apa dia membenciku ya?” kata Azura memikirkan kemungkinan yang terus saja berputar di kepalanya karena melihat sikap ‘buang muka’ Vio tadi pagi. Tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya.

“ah, kenapa tidak terpikir oleh ku!” teriaknya membuat semua anak yang ada di kelas menatapnya heran. Ia langsung tersenyum minta maaf. Dan bergegas keluar. Saat sampai di depan pintu ia hanya memandang punggung Viola dan Rangga yang kemudian berbelok ke arah tangga. Azura pun tidak dapat menahan senyumnya, mengingat ide cemerlangnya itu.

Esoknya, Viola tampak tergesa-gesa menuju perpustakaan pada waktu istirahat. Seperti biasa, ia ingin mengembalikan novel yang ia pinjam di perpus. Tapi, ketika di pertengahan jalan, ia tertabrak seseorang. Tetapi, sebelum ia sempat meminta maaf, kata-kata itu terhenti di ujung lidah ketika ia melihat siapa yang bertabrakan dengannya.

Tanpa menunggu aba-aba ia langsung meninggalkan cewek itu. Ya cewek yang ditabraknya. “hey, tunggu!” Viola mendengar cewek itu berseru tapi ia tetap tak peduli dan langsung berjalan saja. Sesampainya di perpus ia langsung mencari novel yang ia pinjam di selipan buku-buku pelajarannya. Yah, bagaimanapun juga ia merasa takut jika harus membawa-bawa novel di sepanjang jalan.

Deg. Novel itu tidak ada. “bagaimana ini?” gumamnya sambil terus bergerak gelisah. Ibu guru yang duduk di depan meja itu, yang adalah pengatur setiap pinjaman buku-buku, menatap Viola dengan galak.

“kenapa?? Kamu hilangin ya bukunya?!” kata Bu Mercy galak. Belum sempat Viola menjawab ia dikagetkan oleh suara seorang cewek yang tiba-tiba berada di sampingnya.

“ini Bu bukunya. Tadi Vio lupa bawa ke sini saking buru-burunya.” Kata cewek itu. Hah, dia lagi?!, pikir Viola, namun tersenyum juga saat guru itu menatapnya masih dengan tatapan galak. Melihat tatapan itu, Viola bersumpah tidak akan mengulangi kejadian ini lagi. Setelah minta maaf kepada Bu Mercy, Viola langsung saja menuju meja biasanya di dekat jendela.

“hei, Vio tadi kamu kupanggil tapi…” kata-kata Azura terhenti. Ya, Azura yang tadi ia tabrak dan membantunya lolos dari Bu Mercy walaupun sebenarnya ia benci dengan kenyataan itu.

“ga usah sok akrab deh!” kata Viola ketus.

“Vio aku cuma mau ngobrol sama kamu.” Kata Azura dengan tatapan memohon pada Viola yang sedang membaca novel yang tadi ia ambil di rak belakangnya. “aku ga mau.” Kata Viola masih dengan tatapan ketus. Azura terdiam sebentar lalu bertanya lagi.

“kenapa kamu membenciku?” Viola langsung berhenti membaca dan mengangkat wajahnya dari novel yang sedang ia baca. “dengar ya, aku sama sekali ga ada niat untuk ngobrol apalagi berteman denganmu. Jadi pergilah.” Kata Viola langsung melanjutkan membaca lagi.

Azura tahu sepertinya Viola menyimpan sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Tapi, setidaknya ia puas Viola sudah sedikit mengobrol dengannya. Yah, walaupun itu hanya jawaban-jawaban ketus tadi. Tapi, ia tidak akan menyerah. Ia akan mencoba membuat Viola jadi temannya. Pasti.

“heh. Kenapa senyum-senyum. Pergi sana!” kata Viola dengan kasar. Azura langsung pergi begitu saja tapi ia tidak akan menyerah begitu saja tentunya.

“mau ke perpus lagi?”

Viola mendongak dari kesibukannya membereskan buku dan menatap temannya itu. Saat itu adalah waktu istirahat, jadi seperti biasa ia akan ke perpus untuk melepas lelah setelah barusan berkutat dengan berbagai macam rumus beda potensial.

“ya, seperti biasa.” Jawabnya dan hanya dijawab oleh anggukan Mytha. Langsung menuju perpus, melewati jalan yang sudah tak asing lagi baginya. Seperti biasa ia langsung menuju meja biasa yang ia tempati. Tapi, ternyata meja itu sudah ditempati oleh seseorang. Viola tidak bisa melihat wajahnya karena cewek itu menutupinya dengan buku yang ia baca.

Viola tidak mempedulikan itu dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja itu. Tapi saat ia duduk, matanya menangkap sesuatu yang sangat membuatnya takjub. Dan ia peduli akan hal itu. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kekagumannya pada buku yang ada di atas meja itu lagi.

“permisi, apa boleh aku meminjam buku ini?” katanya lalu ia melihat bahwa buku itu tidak ada label perpusnya dan itu berarti satu hal sepertinya punya cewek di hadapannya ini.

“ini punya mu ya? Wah, hebat sekali kamu punya novel Harry Potter yang ke tujuh. Ini kan sudah tidak ada lagi. Bahkan di perpus ini tidak ada. Aku baru baca yang ke enam, yang ku pinjam dari Mytha. Jadi aku belum tahu akhir ceritanya.” Kata Viola yang sebenarnya adalah bercerita. Lalu ia menyadari kalau ia terlalu bercerita banyak. Pasti orang ini langsung menganggapku sok, pikirnya dalam hati.

“ah, maaf aku jadi bercerita banyak.” Katanya meminta maaf.

“sepertinya kamu sangat menyukai Harry Potter?” tanya cewek di hadapannya.

“iya, aku pikir cerita tentang dunia sihir itu keren banget. Apalagi sekolah asrama. Aku juga suka karakter Harry yang pemberani, Hermione yang pintar, Ron yang suka menolong dna jalan ceritanya yang benar-benar menegangkan. “ ceritanya dengan ceria. Yah, kalau ditanyain tentang Harry Potter beginilah reaksinya.

“yah, bisa dilihat kamu sangat suka novel itu. Kalu mau pinjam silakan aja?” kata cewek itu. Dan seketika membuat Viola rasanya ingin melompat-lompat kegirangan.
“oh, benarkah? Aku boleh meinjamnya?” tanya Viola dengan senang.

“ya, pinjamlah sesukamu.” Kata cewek itu masih menutupi wajahnya. Tapi, Viola sudah tidak peduli lagi. Ia langsung membuka novel itu dengan mata berbinar-binar. Tepat saat a membuka halaman pertama, ia melihat nama itu. Nama yang tertera sebagai pemiliki dari novel itu.

Azura Winata. Hatinya langsung mencelos. Ternyata dari tadi ia berbicara dengan orang yang sama sekali tidak ingin ia tegur. Pantas saja orang ini menutup mukanya dari tadi, pikir Viola dalam hati.

“apa sih maumu?” kata Viola jelas saja ia marah.

“oh, aku ketahuan ya” kata Azura lalu tersenyum dan hanya dibalas oleh tatapan kesal Viola. “aku Cuma mau ngobrol denganmu. Terpaksa dengan cara ini.” Lanjutnya. Lalu ia melihat Viola masih menatapnya geram. Ya, memang ini rencananya. Ia tahu dari Rangga kalau Viola suka baca novel dan yang paling ia sukai Harry Potter. Dan, disinilah ia sekarang. Mencoba untuk membuat Viola mau berteman dengannya. Alasan ia gigih melakukan ini adalah karena…. kejadian itu. Kejadian yang membuat, ia yakin akan adanya seorang teman.

“Vio aku Cuma mau berteman denganmu. Mungkin kau tidak ingat denganku? Tapi, aku ingat denganmu. Makanya aku mau berteman denganmu. Bisa tidak?” sebelum Vio sempat menjawab ia melanjutkan lagi. “tolong jangan berpikir semua artis itu sama, Vio. Aku… beda.” Kata-katanya yang terakhir itu membuat Vio menatapnya heran

“aku tidak mengerti. Kau mengenalku? Dan kau beda dengan artis yang lain” tanyanya heran.

“ya, aku mengenalmu jauh sebelum kita bertemu di kelas pertamana kali. Dan… aku ga akan kasih tahu sebelum kau mengingatku.” Kata Azura misterius. “dan… aku tahu dari Rangga kalau kau punya trauma terhadap artis. Ya… jadi aku bilang aku beda dengan yang lain. Percaya deh.” Kata Azura sedikit gugup melihat perubahan sikap Viola saat mendengar nama Rangga.

“hebat ya, kalian sudah sedekat itu. Sampai rahasia ku juga dia bilangin ke kamu.” Kata Viola membuang muka.

“ga kok Vio. Rangga Cuma bilang itu. Ga ada lagi.” Azura memprotes. Ya, memang tadi kemaren ia menanyakan hal itu pada Rangga karena ia sangat bingung kenapa Vio sangat membencinya. “mmm.. jadi kita berteman kan sekarang? Bilangnya kan kamu mau pinjam novelku?” tawar Azura. Seketika ia senang melihat Viola menatapnya penuh dengan pertimbangan. Ah, sepertinya aku akan berhasil, pikirnya. “kalau mau pinjam kita jadi teman ya?” lanjut Azura dengan senyum yang mengembang.

Viola tampak berpikir sebentar. Lalu menjawab, “ok.” Satu kata itu saja sudah hampir membuat Azura melompat kegirangan. “jadi kita berteman?” kata Azura sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Viola tampak ragu sesaat tapi dikaitkannya juga jari kelingkingnya di jari kelingking Azura. Itu membuat Azura sangat senang. Dan kaitan jari itu menandakan awal pertemanan mereka.

Viola juga tidak tahu kenapa ia mau berteman dengan Azura begitu saja hanya karena novel. Di saat itu ia pikir mungkin ia bisa mencoba untuk berteman dengan Azura. Karena… sepertinya anak itu baik. Dan, Azura bilang mereka pernah bertemu jauh sebelum Azura pertama kali masuk sekolah barunya itu. Dan yang paling membingungkan Viola sama sekali tidak ingat itu. Jadi, itu adalah salah satu alasannya berani mencoba. Siapa tahu, ia bisa ingat tentang Azura.

Sudah lebih dari seminggu ia berteman dengan Azura. Azura juga sudah mulai akrab dengan teman Viola yang lain selain Rangga. Dan, Viola bisa melihat kalau Azura memang orang yang baik, sangat baik malah. Dan itu membuat Viola tahu Azura beda dengan yang lain. Tapi, bukan itu permasalahannya.

Akhir-akhir ini Azura jadi lebih kelihatan menjauh dari Viola. Itu membuat Viola bingung dan memutuskan untuk bertanya pada Azura. Dan hanya dijawab dengan alasan yang menurut Viola sedikit tidak masuk akal.

“kita kan sudah kelas 3. Jadi… tugas-tugas tu banyak. Makanya aku sama sekali ga bisa hanya untuk sekedar menyapa kamu atau teman yang lain.” kata Azura sewaktu Viola menanyainya. Dan yang membuat Viola cemas nada Azura mengatakan itu sama sekali bukan seperti Azura yang biasa. Perubahan sikap Azura juga dirasakan oleh Rangga. Tapi, seperti biasa ia mencoba berpikir positif.

Belum selesai dengan kecemasan Viola dengan sikap Azura, sudah tiga hari berturut-turut Azura tidak turun sekolah tanpa izin. Dan tu membuat Viola semakin cemas. Ia dan Rangga pun berniat pergi ke rumah Azura sepulang sekolah nanti. Tapi, sebelum mereka melaksanakan niat itu. Kakak Azura datang untuk memberikan surat izin. Tanpa berpikir lagi, Viola langsung menanyakan pada Andini, kakak Azura, apa yang sebenarnya terjadi pada Azura.

Tepat ketika kak Andini mengatakan kata-kata itu, Viola langsung merasakan tubuhnya membeku dan matanya mulai berkaca-kaca. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi pada Azura? Seketika pikiran Viola langsung kosong. Bagaimana ini?

Setelah mendengar kabar itu, disinilah Viola dan Rangga berada. Tanpa menunggu lagi, pulang sekolah mereka langsung pergi menuju rumah sakit. Ya, rumah sakit, di situlah Azura berada sekarang. Viola terus mencoba menahan air matanya saat sudah di depan pintu kamar Azura.

“Vio, jadi kita masuk sekarang?” tanya Rangga di sampingnya. Ia juga sangat terkejut atas informasi yang diberikan oleh kakaknya Azura tadi di sekolah. Tapi, Rangga tahu yang lebih terpukul pasti adalah Viola.

Viola hanya mengangguk lemah. Tadi, kak Andini pergi sebentar untuk menemui seseorang. Jadi, di sinilah mereka sekarang mencoba untuk menguatkan hati saat nanti bertemu dengan Azura. Rangga yang membuka pintu. Viola tidak yakin dia akan kuat hanya untuk membuka pintu saat ini. Hatinya benar-benar hancur mendengar apa yang terjadi pada Azura. Kamu harus bersikap seperti biasa, Vio. Dengan begitu, Azura pasti ga akan khawatir!, pikirnya dalam hati.

Saat pintu di buka, mereka masuk seketika mata Viola menangkap sosok yang selama ini ia rindukan. Sosok yang duduk dengan lemah di tempat tidur. Yang mengenakan baju pasien rumah sakit. Melihat itu hati Viola jadi tambah perih. Tapi, ketika Viola melihat senyuman itu, senyuman yang seakan menyiratkan bahwa ia baik-baik saja, membuat Viola tahu sahabatnya itu membutuhkan dukungan darinya.

“hai, Vio! Hai, Rangga! Apa kabar?” itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Azura. Ia mengucapkannya dengan nada seperti biasa. Seperti… orang sehat. Azura lalu melambaikan tangannya ke arah kursi di samping tempat tidurnya.

“Azura kenapa kamu ga bilang yang sebenarnya dari awal?” Viola tidak bisa menahan lagi pertanyaan itu. Pertanyaan yang terus saja berputar di otaknya. Pertanyaan yang membuat Viola ragu kalau Azura memang benar menganggapnya sahabat. Azura hanya tersenyum.

“jawab dulu aku pertanyaannku!” kata Azura dengan wajah pura-pura kesal.

“ya. Kami baik-baik aja kok, Ra.” Kata Rangga yang sedari tadi diam saja. Viola ingin menjawab, tidak ia tidak dalam keadaan baik sekarang. Tapi, tentu saja kalau ia tidak mau membuat Azura khawatir, ia tidak mengatakannya.

“baguslah. Aku tenang sekarang.” Kata Azura tetap tersenyum.

“Azura, tolong jelaskan sekarang.” Kata Viola menatap Azura penuh harap. Viola melihat Azura tampak menarik napas dahulu lalu ia memejamkan mata untuk menyiapkan mental.

“Vio, kamu tahu ga alasan sebenarnya aku masuk sekolah ini?” kata Azura tersenyum sambil menatap Viola misterius.

“kamu mau cari teman yang bisa menyukai kamu dari segi sifatmu kan? Itu kan sudah pernah kamu ceritakan ke aku.” Kata Viola mengingat-ingat.

“sebenarnya, ada alasan utama.” Viola langsung membulatkan matanya karena kaget. “sebenarnya… di hari itu, di hari aku menerima penghargaan atas peran di film pertamaku, di hari itu juga aku diberitahu kalau… aku punya penyakit ini. Aku yakin kamu sudah tahu kan dari kak Andini?” Viola hanya mengangguk dan Azura melanjutka ceritanya. Sedangkan Rangga di samping Viola hanya ikut mendengarkan.

“waktu itu aku benar-benar terpukul. Bagaimana bisa? Aku benar-benar sedih saat tahu kak Andini melarangku untuk syuting lagi. Aku kesal. Tapi, lama-lama aku pikir penyakit ini bisa membuatku senang juga.” Viola berusaha sekeras tenaga untuk menahan air mata. Azura melanjutkan,

”aku senang karena ternyata mama juga dulu punya penyakit ini. Penyakit yang sudah merenggut nyawa mama. Setidaknya aku ada kesamaan dengan mama walaupun itu dalam hal penyakit. Karena, dulu aku selalu iri sama Kak Andini yang selalu punya kesamaan dengan mama.” Viola dan Rangga bisa melihat mata Azura mulai berkaca-kaca. Viola lalu menggenggam tangan Azura untuk menguatkannya.

“aku tahu hari ini pasti akan datang cepat atau lambat. Hari… kalian tahu penyakitku. Jantung bawaan. Itu peyakitku dan penyakit mama dulu. Setidaknya, aku bersyukur aku yang dapat penyakit ini bukan Kak Andini.” Seketika benteng pertahanan Viola runtuh. Air mata mulai jatuh di pipinya. Kemudian, ia menghapusnya dengan cepat, takut Azura melihatnya. Ya, penyakit yang diderita oleh Azura adalah jantung bawaan, akhir-akhir ini ia sering mengalami serangan. Dan ini adalah puncak kelemahan jantungnya. Azura tidak tahu sampai kapan lagi ia bisa bertahan. Ia rasa tidak akan lama. Karena… hanya ada satu jalan. Pencakokan jantung. Dan itu pasti membutuhkan jantung baru. Sampai sekarang pun tidak ditemukan jantung yang cocok untuk Azura. Itu membuat harapan orang-orang yang menyayangi Azura semakin kecil. Tiba-tiba Azura teringat sesuatu.

“oh ya. Rangga kalau aku sudah ga ada lagi. Kamu harus cepat katakan perasaanmu ke Vio ya!” kata Azura dengan semangat mengucapkannya seakan tidak ada beban. Itu membuat Viola terkejut.

“Azura, kamu jangan ngomong gitu. Aku yakin kamu pasti sembuh” kata Rangga mendahului Viola, yang juga akan mengatakan itu. Viola tahu sebenarnya persaan Rangga terhadapnya. Tapi, ia tidak bisa memikirkan itu untuk sekarang ini.

“kan ku bilang ‘kalau’. Ok?” kata Azura. Viola hanya diam mendengar permintaan Azura itu.

“mmm, aku keluar dulu ya.“ kata Rangga lalu bergegas keluar.

“huh, anak itu.” Kata Azura lalu tertawa, tapi tidak terlalu lama mengingat kondisinya itu. “Vio, kamu tahu kan kalau…” ucapan Azura terhenti.

“Ra, jangan ngomongin itu dulu deh.” Kata Viola menatapnya kesal. Azura hanya terkekeh melihat sahabatnya itu salah tingkah. Ah, ia ingat sesuatu.

“Vio, kamu bisa ceritakan tentang alasanmu benci sama artis ga?” kata Azura hati-hati namun, bisa membuat luka di hati Viola kembali terbuka. Viola sempat ragu apakah akan mengatakannya atau tidak. Lalu, ia melihat wajah penuh harap dari Azura. Ia akan mengatakannya.

“dulu sekali waktu aku masih kecil, mungkin kelas 3 sd. Aku minta belikan mainan ke mama dan papa. Aku, maunya hari itu juga. Dan hari itu juga mama dan papa pergi membelikannya. Yah, karena aku anak semata wayang. Dan… ketika mereka dalam perjalanan pulang. Mereka… kecelakaan.” Satu tetes air mata jatuh di pipi Viola. Viola membiarkannya begitu saja. Azura menggenggam tangan Viola erat. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

“dan, aku langsung membenci semua artis karena yang menabrak orang tuaku adalah seorang artis. Artis yang sedang mabuk. Aku sangat bersyukur dia dihukum penjara lama sekali. Jadi, maaf aku sama sekali ga bersikap baik ke kamu waktu pertama kali kita ketemu, Ra” kata Viola menatap Azura.

“aku tahu kok kalau memang ada alasan khusus. Tapi pesanku, jangan anggap semua orang itu sama lagi ya, Vio.” nasehat Azura sambil tersenyum. Viola teringat sesuatu. Yang juga membuatnya penasaran sekali dari dulu.

“oh ya. Sebenarnya kita pertama kali bertemu di mana sih?” tanya Viola. Azura langsung teringat kejadian itu kembali. “waktu aku datang untuk melihat sekolah baruku.” Kata Azura dengan senyum yang tidak bisa ditahannya. Azura melihat Viola menatapnya bingung. “ih masa Vio ga ingat. Waktu itu aku pakai kacamata hitam. Kan kamu yang ngasih aku perban untuk luka di jariku.” Kata Azura mengingatkan Viola. Viola terus mengingat-ingat. Perban? Luka? Kacamata hitam? Deg. Ia ingat masa cewek itu Azura?

“jadi itu kamu?” kata Viola benar-benar tak menyangka. Azura hanya mengangguk sambil tersenyum-senyum. Ya, waktu itu Azura ingin beradaptasi dulu dengan lingkungan sekolah barunya. Ternyata, tanpa ia sadari jarinya terluka. Mungkin tergesek sesuatu saat di mobil. Ia tidak akan sadar itu sampai seorang cewek yang ternyata adalah Viola, memberikan perban untuk Azura.

Viola sempat bingung dengan pakaian cewek ini. Tapi, ia tidak peduli lagi dan langsung pergi begitu saja saat memberikan perban itu. Itu malah membuat Azura peduli. Dan sejak saat itu, ia bertekad untuk berteman dengan anak yang memberikannya perban.

“syukur deh kamu ingat.” Kata Azura. Lalu, ia melepas sesuatu yang tergantung di lehernya. Kalung? Lalu menyerahkannya pada Viola. Viola hanya menatapnya dengan tatapan bertanya.

“simpanlah itu sebagai kenangan dariku. Kalau kamu kangen sama aku lihat aja itu dan tempelkan ke dada pasti kangennya bisa terobati.

“ini kan kalung kesayangannmu?” Azura memang pernah bercerita kalau kalung itu diberikan oleh mamanya. Kemudian, Viola melanjutkan. “dan jangan bilang kata-kata ‘kalau aku sudah ga ada’ atau sebagainya. Kamu pasti kuat, Ra.” Kata Viola sambil menyerahkan kembali kalung dengan liontin bintang itu ke Azura. Azura menolak.

“Vio, aku sudah ga ada harapan lagi. Tolong simpan aja itu. Mama dulu bilang aku seperti liontin itu. Bintang yang selalu ada di hati mama. Dan, sekarang itu milikmu. Vio, kamu akan selalu ada di hatiku sebagai seorang sahabat pertama dan terakhirku. Terima kasih ya, karena mengizinkanku untuk berteman denganmu.” Kata Azura. Air mata mulai jatuh lagi di kedua pipinya. Begitu pun Viola.

Viola langsung memeluk Azura. Ia sudah tidak kuat lagi. “ya, baiklah aku akan menyimpan kalung ini. Aku… akan selalu mengingatmu selamanya. Yang akan selalu jadi bintang yang paling terang di langit.” Kata Viola terpatah-patah karena air mata yang keluar terus menerus.

“ok, aku tenang sekarang. Sekali lagi, terima kasih Vio.” Kata Azura semakin lemah. Viola bisa merasakan tubuh Azura sangat dingin. Kenapa dengannya? AC nya ga dinyalakan kok?, pikir Viola dalam hati.

“ya terima kasih juga, Azura” kata Viola sambil melepas pelukannya. Tepat pada saat ia melepaskan pelukannya pada Azura, tubuh cewek itu terkulai lemas. Aura dingin mulai merayapi tubuh Viola. Ia mulai panik. Ia mencoba merasakan denyut nadi Azura. Tidak berdenyut.

“Azura bangun! Azura! Ga lucu tahu! Azura! Azura Winata!” teriak Viola. Air mata kembali jatuh di pipinya. Pikiran buruk itu masuk ke dalam otaknya tanpa bisa ia cegah.

“Dokter! Dokter!” teriakannya itu membuat Rangga yang sedari tadi menunggu di luar masuk ke dalam.

“apa? Kenapa?” tanyanya panik melihat Viola menangis. Kemudian, matanya menangkap sosok Azura yang terkulai lemas di tempat tidur.

“dokter! Panggil dokter! Cepat!” kata Viola panik. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Rangga langsung memanggil dokter. Viola benar-benar takut. Saat dokter datang. Itu pun percuma. Sudah terlambat. Azura sudah tidak bernapas lagi.

Pagi itu, seperti biasa Viola berangkat pagi-pagi untuk bersekolah. Sebenarnya, ia capek harus bangun pagi terus, dan ia takut saat sudah sampai di kelas nanti ia tidak melihat seseorang yang sangat ingin dilihatnya itu. Jujur ia masih belum siap kehilangan Azura.

Surat kabar dan media informasi lain pun sudah memberitakan tentang meninggalnya Azura. Viola juga ikut datang sewaktu pemakamannya Azura. Seharian itu ia terus menangis. Memang berlebihan. Tapi, begitulah kenyataannya. Ia benar-benar sedih.

“Vio, ada Rangga tu nungguin kamu di depan.” Kata nenek yang sudah ada di depan pintu kamar Viola.

“aduh nenek. Ngagetin aja. Emang mau ngapain dia, nek?” kata Viola.

“bilangnya mau jemput kamu. Dia naik sepeda tu. Sana gih cepat, nanti keburu lama dia nunggu.” Kata nenek langsung berlalu. Sepertinya, Viola tahu. apa mungkin dia mau menuhin permintaan Azura? Pikir Viola. Kemudian, Viola menghilangkan pikiran ge-er itu secepatnya.

Saat ia akan menarik tasnya yang ada di meja. Tiba-tiba sesuatu terjatuh. Kalung bintang itu? Viola mengambilnya. Lalu ia memandanginya sebentar. Ia mencoba untuk membuka liontin itu, yang sebelumnya belum sempat ia buka. Ia tertegun, foto dirinya dan Azura yang ada di dalamnya. Viola berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis lagi.

“Azura, terima kasih ya atas semuanya.” Katanya tersenyum melihat foto Azura. Viola langsung mengenakan kalung itu di lehernya. Dan melangkah keluar rumah untuk menemui Rangga dan bersiap untuk melewati hari-hari ke depan yang penuh misteri.

Sosok bintang terkenal itu memang sudah redup di mata semua orang. Tapi tidak di mata dan hati Viola. Azura akan selalu diingatnya sebagai bintang yang selalu bersinar di hatinya. Selamanya.

 


Comments




Leave a Reply

    Author

    Write something about yourself. No need to be fancy, just an overview.

    Archives

    February 2013

    Categories

    All